Mana Yang Lebih Penting, IQ Vs EQ Dalam Dunia Kerja & Kesuksesan Hidup?

Mana hal yang lebih penting yang menentukan kesuksesan hidup? Kecerdasan dari buku atau kecerdasan dari jalanan? Ini adalah pertanyaan yang menjadi pokok perdebatan yang membedakan kepentingan relatif dari Intelligence Quotient(IQ) dan Emotional Quotient(EQ). IQ bisa kita sebut sebagai kecerdasan intelektual, dan EQ bisa kita sebut sebagai kecerdasan Emosional. Pro kontra ini diisi oleh 2 kubu. Kubu yang pertama adalah para pendukung kecerdasan buku yang menyarankan bahwa kecerdasan intelektual lebih penting dalam menentukan seberapa baik seseorang bisa bijak dalam hidup. Lalu kubu yang kedua adalah yang mendukung kecerdasan jalanan, yang menyarankan bahwa EQ lebih penting! Lalu mana yang benar?

Iklan

IQ dan EQ, Mana yang Penting?

mana yang lebih penting iQ atau EQ

Istilah “Kecerdasan Emosional” ini muncul pertamakali sejak 1964 oleh Michael Beldoch, namun hal ini menjadi populer pada tahun 1995 setelah penulis, jurnalis dan seorang psikolog Daniel Goleman menulis bukunya yang berjudul Emotional Intelligence. Dalam bukunya tersebut Goleman menyarankan bahwa EQ mungkin lebih penting daripada IQ. Goleman menunjukkan bahwa EQ berkontribusi sebesar 67% terhadap kemampuan yang dianggap penting untuk berkinerja baik sebagai pemimpin, bahkan 2 kali lebih penting daripada keahlian teknis atau IQ.

Sebelumnya pada tahun 1983, Dr Howard Gardner, seorang psikolog Amerika dalam bukunya The Theory of Multiple Intelligences menunjukkan ide bahwa jenis kecerdasan tradisional seperti IQ gagal total menjelaskan kemampuan kognitif. Dia memperkenalkan “gagasan kecerdasan ganda” yang mencakup kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. yaitu kecerdasan bukanlah kemampuan umum tunggal, namun ada beberapa kecerdasan yang orang lain memiliki kehebatan disejumlah bidang.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan EQ yang tinggi memiliki kesehatan mental, kinerja pekerjaan, dan keterampilan kepemimpinan yang lebih besar meskipun tidak ada kaitan sebab-akibat yang bisa ditunjukkan.

Beberapa ahli meyakini bahwa kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan emosi bisa memiliki peran yang sama sama jika tidak lebih penting dalam bagaimana orang hidup dalam kehidupan.

Perbedaan IQ dan EQ

IQ adalah skor yang didapat dari test kecerdasan standard. Pada tes IQ yang asli, skor dihitung dengan cara membagi usia mental individu dengan usia kronologisnya kemudian dklaikan dengan 100. Namun saat ini skor yang dihitung pada sebagian besar test IQ adalah dengan membandingkan skor peserta tes dengan skor orang lain dalam kelompok usia yang sama.

Skor IQ dianggap sebagai ukuran kemampuan seseorang untuk memahami berbagai keterampilan serta belajar untuk menerapkannya. Skor IQ merupakan skala yang mengukur kemampuan penalaran, analitis, numerik, dan lainnya. Jadi orang yang memiliki skor IQ tinggi umumnya memiliki kinerja akademik yang lebih baik, lebih sedikit mengambil upaya mental ketika melakukan tugas intelektual dibandingkan dengan mereka yang memiliki IQ rendah.

Orang-orang yang memiliki IQ yang lebih tinggi akan lebih pandai dalam memahami kata, berpikir abstrak, berpikir spasial, dan dapat dengan mudah menyaring informasi yang mereka anggap tidak relevan. Sebagian besar dari mereka berhasil di bidang yang lebih menantang, di mana mereka bisa menerapkan ketrampilan analitis mereka dengan baik. Orang-orang ini bisa memiliki karir yang bagus dalam bidang penelitian dan pengembangan, dan dinggap sebagai golongan yang memiliki kemampuan tinggi dan berbakat.

Baca lebih banyak tentang Skor IQ Klik Disini

Sementara itu EQ adalah kecerdasan emosional, adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan mengevaluasi emosinya serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang menarik bahwa EQ dikatakan terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi bahkan mengganggu kemampuan intelektual seseorang. Orang dengan EQ yang lebih tinggi lebih cocok sebagai pemain tim serta dalam peran kepemimpinan atas mereka yang memiliki EQ yang lebih rendah.

Banyak ahli psikolog yang menyoroti EQ,  yang membawanya kepada pembahasan hangat diberbagai bidang mulai dari bisnis hingga pendidikan termasuk Goleman.

EQ mulai tahun 90-an sudah membuat perjalannya dari mulai konsep yang kurang begitu jelas yang bisa ditemukan di jurnal akademik hingga menjadi suatu istilah yang populer. Saat ini EQ sudah sangat populer, bahkan ada banyak produk mainan yang diklaim bisa meningkatkan EQ anak. Bahkan ada program pembelajaran yang desain untuk mengajarkan keterampilan kecerdasan emosional.

Lalu mana yang lebih penting, IQ atau EQ?

Pada satu poin IQ dianggap sebagai penentu utama dari kesuksesan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi dianggap sebagai orang yang ditakdirkan untuk sebuah pencapaian dan prestasi. Lalu para peneliti berdebat bahwa kecerdasan adalah hasil dari gen atau lingkungan. Namun pada saat ini beberapa kritik mulai menyadarkan bahwa yang menjamin kesuksesan dalam hidup bukan hanya nilai kecerdasan intelektual yang tinggi, namun mungkin itu juga mencakup berbagai macam kemampuan dan pengetahuan manusia.

Tapi IQ masih diakui sebagai unsur penting dari sebuah kesuksesan, terutama ketika menyangkut prestasi akademik. Orang dengan IQ tinggi biasanya memiliki kinerja yang bagus di sekolah, sering mendapatkan penghargaan, prestasi, dan secara umum lebih sehat. Tetapi banyak ahli saat ini yang mengakui bahwa itu bukan satu-satunya yang menentukan keberhasilan dalam hidup. namun ini merupakan bagian dari banyak pengaruh yang rumit yang salah satunya mencakup kecerdasan emosi.

Konsep EQ kini telah memiliki dampak yang kuat di beberap bidang termasuk di dunia bisnis. Telah banyak perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan EQ juga menggunakan tes EQ sebagai bagian dari proses perekrutan pegawai.

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan potensi kepemimpinan yang kuat juga cenderung lebih cerdas secara emosional. Hal ini menunjukkan bahwa EQ yang tinggi merupakan kualitas penting yang harus dimiliki para pemimpin dan manajer bisnis.

Dalam studi 2015, TalentSmart menemukan bahwa EQ adalah prediktor terkuat dari kinerja kerja, yaitu yang menyumbang 58% dari jumlha kesuksesan di semua bidang.

Dalam dunia bisnis sekarang ini yang makin bergantung pada negosiasi, kompromi, dan kolaborasi, maka pentingnya Emotional Intelligence ini tidak bisa diremehkan. EQ bisa menciptakan maupun menghancurkan hubungan klien dan lingkungan kerja, serta agar bisa berhasil dalam berkomunikasi dengan rekan kerja.

Untuk bisa sukses, kecerdasan emosi lebih penting diatas kecerdasan matematis. Oleh karena itu banyak pengusaha yang lebih mencari orang dengan kecerdasan emosional.

Penelitian lain juga telah menunjukkan bahwa kesuksesan ditempat kerja atau dalam hidup 80% tergantung pada Kecerdasan Emosional dan hanya 20%nya Kecerdasan Intelektual. Sisi Intelektual kita akan membantu kita dalam menyelesaikan masalah, membuat perhitungan atau memproses informasi. Dan EQ yang memungkinkan kita untuk lebih kreatif dan menggunakan emosi kita untuk menyelesaikan berbagai masalah yang pasti ada.

Individu dengan EQ yang lebih tinggi memiliki faktor emosi lebih besar dalam proses pemikiran mereka serta mampu memahami makna emosional. Individu-individu ini memiliki kemampuan kepemimpinan, memiliki kemampuan bekerja dalam tim, dan bisa bekerja sama dalam bekerja. Meskipun secara umum mereka adalah pekerja tim, namun ada beberapa individu yang juga bisa bekerja sangat baik saat bekerja sendiri. Sebagian besar EQ tinggi memiliki kemampuan untuk menilai emosi orang-orang yang ada di sekitar mereka sekaligus dengan dirinya sendiri.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan berekspresi dan menyesuaikan emosi diri dan emosi orang lain. Disisi lain kecerdasan intelektual menjadi susah dirubah setelah akhir masa remaja, tapi kecerdasan emosional masih bisa dikembangkan kapanpun dengan syarat ada perhatian dan upaya yang diberikan.

Bisakah Kecerdasan Emosional dipelajari?

Jika EQ itu juga begitu penting, lalu apa bisa diperkuat atau diajarjan? Menurut sebuah meta analisis yang melihat hasil dari sebuah program pendidikan sosial dan emosional, jawaban nya adalah bisa! Hasil ini menunjukkan bahwa sekitar 50% anak yang terdaftar dalam program pembelajaran tersebut memiliki skor prestasi yang lebih baik, serta hampir 40% anak menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dikelas. Program pembelajaran ini dikaitkan dengan berkurangnya tingkat masalah kedisiplinan dan meningkatnya tingkat kehadiran disekolah.

Beberapa strategi dalam mengajarkan kecerdasan emosi termasuk yang program menawarkan pendidikan karakter, mencontohkan perilaku positif, mendorong tentang bagaimana perasaan orang lain, dan cara untuk lebih berempati terhadap orang lain.

Kata bijak

Keberhasilan dalam hidup bukan karena faktor tunggal, melainkan hasil dari banyak faktor. Tak diragukan lagi bahwa baik IQ dan EQ keduanya berperan begitu penting dalam mempengaruhi kesuksesan kita secara keseluruhan termasuk hal lain seperti kesehatan dan kebahagiaan.

Daripada berfokus terhadap faktor mana yang paling berpengaruh dan dominan, mungkin manfaat terbesarnya terletak pada pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan kita di berbagai bidang. Selain memperkuat kemampuan kecerdasan tertentu, kita juga bisa memperoleh keterampilan sosial dan emosional baru yang akan mendukung kita dengan baik di berbagai bidang dalam kehidupan.

Referensi :

  • Huffington Post – IQ versus EQ: Emotional Intelligence in the Workplace
  • Wikipedia – Emotional Intelligence
  • ScienceDirect – EQ vs. IQ Which is Most Important in the Success or Failure of a Student?
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *